Ad 468 X 60

2016-05-03

Widgets

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah          
Salah satu persoalan pendidikan yang sedang dihadapi bangsa kita adalah persoalan mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan meningkatkan mutu manajemen sekolah. Namun demikian, Indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Sebagian sekolah, terutama di kota-kota, menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang cukup menggembirakan, namun sebagian besar lainnya masih memprihatinkan.
1
 
Pendidikan merupakan usaha pembinaan kepribadian dan kemajuan manusia baik jasmani maupun rohani. Pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Hasil pendidikan dianggap tinggi mutunya apabila kemampuannya baik dalam lembaga pendidikan yang lebih tinggi maupun dalam masyarakat. Dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional[1]. Disebutkan mengenai fungsi dan tujuan Pendidikan Nasional sebagai berikut. Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dengan demikian bidang pendidikan menduduki posisi penting untuk menuju perkembangan dan kemajuan suatu bangsa. Sehingga tujuan pendidikan nasional di atas akan dapat tercapai apabila ada tanggung jawab dari semua pihak, baik murid, orang tua, guru, pemerintah, lembaga pendidikan (sekolah) serta masyarakat. Sehingga pendidikan bukan hanya tanggung jawab dari salah satu pihak saja melainkan semua pihak juga harus terlibat. Begitu juga dengan pemerintah Indonesia, pembangunan di bidang pendidikan juga selalu ditingkatkan.
Usaha mencerdaskan kehidupan bangsa di Indonesia, secara operasional pelaksanaannya diatur dalam pasal 31 ayat,4 UUD 1945  yang berbunyi sebagai berikut: Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.[2]

Peraturan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia benar-benar memperhatikan bidang pendidikan rakyatnya. Bukti lain yang menunjukkan adanya perhatian pemerintah terhadap pendidikan, antara lain: disahkannya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.[3]
Pergeseran pendekatan dalam penyelengaraan sistem pemerintahan di Indonesia telah berimbas pada pengelolaan sistem pendidikan, yakni dari semula yang bersifat sentralistik bergeser kearah pengelolaan yang bersifat desentralistik. Hal ini secara implisit dinyatakan dalam undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah, yang berlakukan secara efektif mulai tangal1 januari, bahwa pendidikan merupakan salah satu bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh daerah kabupaten dan kota ( pasal 11 ayat 2 ).[4]

Menurut Umaedi, konsep yang menawarkan kerja sama yang erat antara sekolah, masyarakat, dan  pemerintah dengan tangung jawabnya masing-masing ini, berkembang didasarkan kepada suatu keinginan pemberian kemandirian kepada sekolah untuk ikut terlibat secara aktif dan dinamis dalam rangka proses peningkatan kualitas pendidikan melalui pengelolaan sumberdaya sekolah yang ada. sejalan dengan pemikiran ini, tim teknis Bapenas dan Bank dunia menyatakan bahwa pemberdayaan sekolah dangan memberikan otonomi yang lebih besar disamping menunjukan sikap tangap pemerintah terhadap tuntutan masyarakat juga dapat ditujukan sebagai sarana peningkatan efisiensi, mutu dan pemerataan pendidikan. Dengan demikian dapat dikatakan MBS merupakan impelementasi  dari pemberian otonomi kepada sekolah untuk memberdayakan diri dalam kerangka  upaya peningkatan mutu pendidikan.[5]

Pada dasarnya MBS (manajemen berbasis sekolah) merupakan suatu strategi pengelolaan penyelengaraan pendidikan di sekolah yang menekankan pada pengerahan dan pendayagunaan sumber internal sekolah dan lingkungannya secara efektif dan efisien sehinga menghasilkan lulusan yang berkualitas dan bermutu.[6]
            Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dan membahasnya dalam bentuk skripsi yang berjudul” Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah di MI Al Hidayah” desa Tulung Harapan Kec. Semendawai Timur Kab. OKU Timur.

B. Identifikasi Objek Penelitian
            Dari latar  belakang masalah di atas, penulis mengidentifikasi beberapa hal pokok permasalahan berkaitan dengan gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam penerapan manajemen berbasis sekolah di MI Al Hidayah Tulung Harapan Kecamatan Semendawai Timur Kabupaten OKU Timur. Di dalamnya memuat gaya atau cara seorang kepala sekolah di dalam menjalankan kepemimpinannya, dan juga pengaruhnya terhadap pelaksanaan manajemen berbasis sekolah yang diterapkan di MI Al-Hidayah.
Mengacu kepada identifikasi di atas maka fokus penelitian dapat dibatasi pada gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam perangkat manajemen. Dari identifikasi masalah tersebut maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut. Bagaimana gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam penerapan MBS.

C. Fokus Penelitian dan Perumusan Masalah  
            Ada beberapa faktor yang berkaitan erat dengan penerapan manajemen berbasis sekolah antara lain faktor kepemimpinan, sikap guru, peraturan pemerintah, dukungan birokrasi, budaya sekolah, sarana dan prasarana, lingkungan masyarakat. Berdasarkan uraian tersebut, maka ada beberapa masalah yang dapat diidentifikasi yaitu:
1.      Bagaimana gaya kepemimpinan kepala sekolah MI Al Hidayah dalam penerapan manajemen berbasis sekolah?
2.      Faktor Pendukung dan faktor penghambat apa saja yang mempengaruhi kepemimpinan kepala sekolah MI Al Hidayah?
D. Tujuan dan Signifikasi Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  kepemimpinan kepala sekolah dan sekaligus penerapannya dalam Manajemen Berbasis Sekolah di MI Al Hidayah Kecamatan Semendawai Timur Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur. Bagi peneliti sebagai wahana untuk mengembangkan ilmu dan sekaligus untuk mendalami sebuah fenomena yang terjadi di sekolah yang menjadi maju dan mundurnya sebuah lembaga pendidikan.
2. Signifikasi Penelitian
            Adapun signifikasi yang diharapkan dari hasil  penelitian ini yakni:
1.    Penelitian ini dapat berguna untuk kepala sekolah dalam rangka meningkatkan manajemen dan kinerja guru.
2.    Penelitian ini juga bermanfaat dalam rangka memperbaiki kegiatan pembelajaran sekolah yang bersangkutan.
3.  Melalui penelitian ini diharapkan kepala sekolah mampu meningkatkan kualitas personal dan professional sebagai kepala sekolah.
4.    Bagi lembaga (instansi) yang terkait, diharapkan  dapat menjadi bahan acuan  kualitas yang baik untuk saat ini maupun yang akan datang.
5.    Bagi penulis dapat mendapat wawasan dan mendapat informasi baru mengenai pengetahuan tentang kepemimpian kepala sekolah yang harus dimiliki seorang kepala sekolah. Sehinga dengan demikian, dapat memberikan masukan dan pembekalan untuk proses kedepan.
E. Sistematika Penulisan
            Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab, setiap bab dirinci kedalam beberapa sub bab sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan: Terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi objek penelitian, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan signifikasi penelitian, dan sistematika penulisan skripsi.
BAB II Landasan teori penelitian berisi deskripsi teori dan kerangka berfikir.
BAB III Prosedur penelitian: Terdiri dari metode penelitian, tempat penelitian, instrument penelitian, sampel sumber data, teknik pengumpulan data,  teknik analisis data dan uji kesohehan data.
BAB IV Hasil Penelitian: terdiri atas deskripsi daerah institusi dan penyajian analisis data.
BAB V Penutup: Terdiri dari kesimpulan dan Rekomendasi


[1]. Ahmad barizi .Holistika pemikiran pendidikan, (Jakarta: PT Raja grafindopersada 2005)  Cet .ke 1. hlm 113.
[2]. Ahmad barizi Holistika Pemikiran Pendidikan, (Jakarta: PT Raja grafindopersada 2005)  Cet .ke 1. hlm 113
[3]. Ibid., hlm 7
[4]. B suryo subroto” Manajemen Pendidikan di Sekolah “(Jakarta :PT Rineka Cipta 2004) cet 1 hal 194.
[5]. Ibid ., hlm 195
[6]. Ibid ., hlm 196

SHARE THIS POST   

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: Mohammad
Mohammad is the founder of STC Network which offers Web Services and Online Business Solutions to clients around the globe. Read More →

1 comment:

Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Disini